Rabu, 17 April 2013

ACARA 1 Pengenalan Fosil






No. Urut                      : 5
No. Peraga                  : 1964
Family                         : Nummulitesidae
Genus                          : Nummulites
Spesies                        : Nummulites millecaput BOUBBE
Proses Pemfosilan       : Mineralisasi
Bentuk                                    : Plate
Komposisi Kimia        : Kalsium Karbonat (CaCO­3)
Umur                           : Eosen Tengah
L.P                              : Laut Dangkal
Keterangan                  : Fosil ini termasuk dalam family Nummulitesidae, genus Nummulites, dan spesies Nummulites millecaput BOUBBE. Adapun bagian-bagian tubuh yang masih bisa diamati dalam fosil ini berupa : Test (bagian Tubuh keseluruhan dari fosil), Endoderm (bagian dalam fosil) Eksoderm (bagian luar fosil).
Proses pemfosilannya dimulai ketika organisme ini mati, kemudian mengalami transportasi pada daerah cekungan sedimen oleh media geologi berupa air, es maupun angin. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Organisme ini lalu mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Karena material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Selama berada dalam lapisan sedimen bagian dari organisme yang tidak resisten terhadap pelapukan tergantikan oleh mineral-mineral atau  material-material sedimen yang lebih resisten. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang  telah mati sehingga menjadi keras/membatu dan menjadi fosil.
Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen  yang  bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat  melalui proses-proses  tektonik. Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai  fosil.      
            Bentuk tubuh dari fosil ini adalah plate yang merupakan bentuk fosil yang menyerupai piring. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCl, yang menandakan bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3). Dilihat dari komposisi kimianya fosil ini memiliki lingkungan  pengendapan  berada  pada daerah  laut dangkal. Berdasarkan Skala Waktu Geologi  fosil ini hidup pada zaman eosen tengah  (±55-50 juta tahun).
Adapun kegunaan dari fosil ini adalah sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan, menentukan lingkungan pengendapan, dan menentukan top dan bottom.
Referensi:
1.      Asisten; 2013. Buku Praktikum Paleontologi. Unhas: Makassar.
2.      Tabel Skala Waktu Geologi



















            ASISTEN                                                           PRAKTIKAN


  (  ASRI RAHMAN AGRI  )                                        (RICHY JOHANIS KANTU)








No. Urut                      : 6
No. Peraga                  : 157
Family                         : Porpitesidae
Genus                          : Porpites
Spesies                        : Porpites porpital
Proses Pemfosilan       : Mineralisasi
Bentuk                                    : Discoidal
Komposisi Kimia        : Kalsium Karbonat (CaCO3)
Umur                           : Silur Tengah
L.P                              : Laut Dangkal
Keterangan                  : Fosil ini termasuk dalam family Porpitesidae, genus Porpites, dan spesies Porpites porpital. Adapun bagian-bagian tubuh yang masih bisa diamati dalam fosil ini berupa : Test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil, tentakel adalah garis pembatas, Oral disk, Oral opening tempat masuknya air dan zat-zat makanan, Endoderm bagian dalam fosil dan Eksoderm bagian luar fosil.
Proses pemfosilannya dimulai ketika organisme ini mati, kemudian mengalami transportasi pada daerah cekungan sedimen oleh media geologi berupa air, es maupun angin. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Organisme ini lalu mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Karena material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Selama berada dalam lapisan sedimen bagian dari organisme yang tidak resisten terhadap pelapukan tergantikan oleh mineral-mineral atau  material-material sedimen yang lebih resisten. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang  telah mati sehingga menjadi keras/membatu dan menjadi fosil.
Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen  yang  bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat  melalui proses-proses  tektonik. Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai  fosil.      
            Bentuk tubuh dari fosil ini adalah plate yang merupakan bentuk fosil yang menyerupai piring. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCl, yang menandakan bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3). Dilihat dari komposisi kimianya fosil ini memiliki lingkungan  pengendapan  berada  pada daerah  laut dangkal. Berdasarkan Skala Waktu Geologi  fosil ini hidup pada zaman eosen tengah  (±55-50 juta tahun).
Adapun kegunaan dari fosil ini adalah sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan, menentukan lingkungan pengendapan, dan menentukan top dan bottom.
Referensi:
1.      Asisten; 2013. Buku Praktikum Paleontologi. Unhas: Makassar.
2.      Anonim,  http://en.wikipedia.org/wiki/porpitesporpital, diakses pada tanggal 13 Maret 2013, pukul 19.45 wita.
3.      Tabel Skala Waktu Geologi














            ASISTEN                                                           PRAKTIKAN


  (  ASRI RAHMAN AGRI  )                                        (RICHY JOHANIS KANTU)




No. Urut                      : 7
No. Peraga                  : 1977
Family                         : Conusidae
Genus                          : Conus
Spesies                        : Conus brocchi BRONN
Proses Pemfosilan       : Permineralisasi
Bentuk                                    : Conical
Komposisi Kimia        : CaCO3 (Karbonat)
Umur                           : Pliosen Atas
L.P                              : Laut Dangkal
Keterangan                  : Fosil dengan nomor sampel 1553 ini merupakan  family Conusidae, genus Conus dan merupakan spesies Conus brochi BRONN.
Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme yang mati, kemudian tertransportasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, dan lain-lain yang dapat mengubah bentuk dan kedudukannya. Selama tertransportasi material yang lebih resisten terhadap pelapukan akan tergantikan dengan material yang lebih resisten.   Kemudian fosil ini akan terendapkan pada daerah yang lebih rendah yang relatif kedudukannya berupa cekungan. Setelah itu akan terakumulasikan yaitu tertutupi oleh lapisan-lapisan batuan sedimen pada tempat asalnya yakni berupa cekungan, Lapisan tersebut lama kelamaan akan bertambah tebal yang mengakibatkan faktor luar berupa sinar matahari tidak dapat menembus lapisan tersebut dan faktor dalam berupa bakteri pembusuk tidak dapat bekerja, sehingga mempermudah proses pemfosilan yang sebelumnya mengalami leaching yakni proses pencucian fosil dan terjadi pergantian secara keseluruhan oleh mineral yang lebih resisten berupa mineral karbonat (CaCO3). Pada saat yang bersamaan terjadi sisa tubuh organisme yang terperangkap pada material sedimen telah berubah menjadi fosil melalui Proses pemfosilan yaitu Permineralisasi, Permineralisasi adalah penggantian sebagian mineral pada tubuh fosil. Selanjutnya terjadi proses kompaksi yang kemudian mengalami pemadatan yang mengakibatkan pori-pori pada fosil mengecil.  Kemudian Setelah kompaksi terjadi proses sementasi, Sementasi adalah proses melengketnya material-material sedimen dalam waktu yang lama fosil yang telah mengalami sementasi lama kelamaan mengalami proses litifikasi, Proses litifikasi adalah  proses pembatuan material sedimen, yang pada akihirnya telah menjadi fosil. Namun karena mengalami penimbunan  maka fosil tersebut tidak dapat langsung dilihat.   Kemudian terjadi gaya endogen dan eksogen, gaya endogen yang terkait didalam proses ini ialah proses tektonik.  Proses tektonik menyebabkan batuan sedimen tadi terangkat ke atas permukaan laut, Melalui proses up lift/pengangkatan atau perubahan permukaan  air laut/sea level change, meskipun telah  terangkat namun  fosil yang ada di dalamnya  belum tersingkap. Proses eksogen seperti pelapukan dan erosi menyebabkan batuan yang menutupi fosil terlapukan dan tererosi, Sehingga fosil tersingkapkan kepermukaan.
Fosil ini memilki bentuk Konikal, dimana bentuknya Konical merupakan bentuk fosil yang menyerupai kerucut yang diameternya dari bawah ke atas semakin.   Adapun bagian–bagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : test (bagian keseluruhan dari tubuh fosil),  Aperture (mulut bagian atas pada tubuh fosil), Umbo (tempat keluarnya kotoran), Umbilicous (kamar pertama dari fosil tersebut), Grotline (berupa garis hitam yang terdapat pada badan fosil dengan kenampakan yang tidak terlalu jelas), Beak (ujung dari tempat keluarnya kotoran).
Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan  HCL 0,1 M, sehingga dapat diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya  berada pada laut dangkal.
Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Pliosen Atas atau sekitar 3,2-1,5 juta tahun yang lalu.
Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan,menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat mengetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI:
1.      Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
3.      www.wikipedia.com/ Conus                   








No. Urut                      : 8
No. Peraga                  : 1553
Family                         : Neocrassinanidae
Genus                          : Neocrassina
Spesies                        : Neocrassina obliqua (LAM)
Proses Pemfosilan       : Internal Mold
Bentuk                                    : Bikonveks
Komposisi Kimia        : Kalsium Karbonat (CaCO3)
Umur                           : Jura Tengah
L.P                              : Laut Dangkal
Keterangan                  : Fosil dengan nomor sampel 1553 ini merupakan  family Neocrassinidae, genus Neocrassina dan merupakan spesies Neocrassina obliqua.
Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme yang mati, kemudian tertransportasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, dan lain-lain yang dapat mengubah bentuk dan kedudukannya. Selama tertransportasi material yang lebih resisten terhadap pelapukan akan tergantikan dengan material yang lebih resisten.   Kemudian fosil ini akan terendapkan pada daerah yang lebih rendah yang relatif kedudukannya berupa cekungan. Setelah itu akan terakumulasikan yaitu tertutupi oleh lapisan-lapisan batuan sedimen pada tempat asalnya yakni berupa cekungan, Lapisan tersebut lama kelamaan akan bertambah tebal yang mengakibatkan faktor luar berupa sinar matahari tidak dapat menembus lapisan tersebut dan faktor dalam berupa bakteri pembusuk tidak dapat bekerja, sehingga mempermudah proses pemfosilan yang sebelumnya mengalami leaching yakni proses pencucian fosil dan terjadi pergantian secara keseluruhan oleh mineral yang lebih resisten berupa mineral karbonat (CaCO3). Pada saat yang bersamaan terjadi sisa tubuh organisme yang terperangkap pada material sedimen telah berubah menjadi fosil melalui Proses pemfosilan yaitu Internal Mold, Internal Mold adalah organisme yang mati bagian dalam dari organisme itu (rongga) menjadi fosil, dimana rongga tersebut terisi oleh zat kapur, silika, dan besi oksida. Selanjutnya terjadi proses kompaksi yang kemudian mengalami pemadatan yang mengakibatkan pori-pori pada fosil mengecil.  Kemudian Setelah kompaksi terjadi proses sementasi, Sementasi adalah proses melengketnya material-material sedimen dalam waktu yang lama fosil yang telah mengalami sementasi lama kelamaan mengalami proses litifikasi, Proses litifikasi adalah  proses pembatuan material sedimen, yang pada akihirnya telah menjadi fosil. Namun karena mengalami penimbunan  maka fosil tersebut tidak dapat langsung dilihat.   Kemudian terjadi gaya endogen dan eksogen, gaya endogen yang terkait didalam proses ini ialah proses tektonik.  Proses tektonik menyebabkan batuan sedimen tadi terangkat ke atas permukaan laut, Melalui proses up lift/pengangkatan atau perubahan permukaan  air laut/sea level change, meskipun telah  terangkat namun  fosil yang ada di dalamnya  belum tersingkap. Proses eksogen seperti pelapukan dan erosi menyebabkan batuan yang menutupi fosil terlapukan dan tererosi, Sehingga fosil tersingkapkan kepermukaan.
Fosil ini memilki bentuk Bikonveks, dimana bentuknya seperti sebuah kerang yang saling menutup satu sama lain. Adapun bagian–bagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : test (bagian keseluruhan dari tubuh fosil),  Aperture (mulut bagian atas pada tubuh fosil), Umbo (tempat keluarnya kotoran), Umbilicous (kamar pertama dari fosil tersebut), Grotline (berupa garis hitam yang terdapat pada badan fosil dengan kenampakan yang tidak terlalu jelas), Beak (ujung dari tempat keluarnya kotoran).
Setelah di tetesi HCl fosil ini bereaksi, sehingga dapat diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya  berada pada laut dangkal. Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Jurasi tengah atau sekitar 180-141 juta tahun yang lalu.
Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan,menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat mengetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI:
1.      Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
3.      www.wikipedia.com/ Neocrassina Obliqua                        



















              ASISTEN                                                              PRAKTIKAN
                                        
   
  (ASRI RAGHMAN AGRI )                                              ( RICHY JOHANIS KANTU)













             


             ASISTEN                                                               PRAKTIKAN
                                        
   
  (ASRI RAGHMAN AGRI )                                              ( RICHY JOHANIS KANTU)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar