Rabu, 17 April 2013

PHYLUM MOLLUSCA



PHYLUM MOLLUSCA
Mollusca merupakan inverterbrata yang mempunyai penyebaran luas dengan banyak jenis. Tubuh dari Mollusca dapat digolongkan 2 bagian besar :
- Bagian Lunak
- Bagian-bagian yang keras (shell)
Mollusca diambil dari perkataan latin yaitu suatu kacang-kacangan yang terbungkus oleh cangkang tipis. Binatangnya menghuni sebuah cangkang atau cangkangnya terdiri dari dua kelompok yang menutupi sebagian atau seluruh tubuhnya.
Hewan ini muncul dari permulaan Zaman Kambrium serta dapat hidup dalam segala macam air dan di darat. Mereka mempunyai daya adaptasi yang tinggi dan dapat dibuktikan dengan beberapa jenis dapat memanjat pohon, bukit-bukit yang tinggi dan beberapa lainnya dapat hidup di padang rumput. Ukuran binatangnya pun berlainan dan berkisar antara beberapa mm sampai 25m. Tridacna, suatu Pelecyopoda yang sekarang masih hidup dengan memiliki berat 225kg dan ruangan antara kedua kelopak cangkangnya demikian besarnya sehingga dalam keadaan tertutup pun masih dapat menampung seorang anak kecil.
Bagian yang keras (shell)
Hampir semua golongan mempunyai bagian-bagian yang keras yang disebut shell, dan umumnya shell ini terdiri dari 3 lapisan :
1. Periostracum : merupakan bagian yang terluar dan tipis terdiri dari conchiolin, yaitu semacam zat organic. Bagian ini dapat menebal mengalami caleitisasi
2. Ostarcum : Merupakan lapisan tengah daripada shell. Bagian inilah yang akhirnya terlihat sebagai garis tumbuh. Komposisi terdiri dari kalsit/aragonite atau kombinasi keduanya, bahkan ada yang bercampur dengan conchiolin. Khususnya pada Pelecyopoda, garis tumbuh ini mempunyai struktur dan bentukyang satu sama lain berlainan.
3. Hypostarcum : merupakan lapisan yang terdalam terdiri dari kalsit/gamping. Pada kebanyakan Mollusca maka lapisan ini dihasilkan oleh Epithelium dari pada mantelnya.
Bagian yang lunak
Bagian yang lunak pada Mollusca umumnya memiliki sifat (umum) :
- tidak bersegmen (ruas)
- menunjukkan cirri khas Bilateral symetri di daerah anterior, posterior
Adapula bagian-bagian yang lunak yang bersifat labil antara lain : hati, system nervous, alat-alat respirasi, alat pencernaan, alat-alat pembuangan, dan kesemuanya itu untuk tiap-tiap kelas mempunyai bentuk dan kedudukan yang berlainan.
KLASSIFIKASI
Dasar-dasar pembagian phylum Mollusca pada garis besarnya didasarkan atas keadaan kaki dan bagian-bagian lunak lainnya yang selanjutnya mengakibatkan perbedaan dari bagian-bagian yang keras.
Maka Phylum ini terbagi menjadi beberapa klas yaitu :
- Klas Amphiureura
- Klas Scaphopoda
- Klas Pelecyopoda
- Klas Gastropoda
- Klas Cepalopoda
Dasar pembagian menjadi golongan yang lebih rendah ; Sub kelas, family, ordo dan genus; didasarkan pada :
1. Jumlah dan keadaan daripada alat-alat pernafasan
2. Perbedaan sitem saref
3. Jumlah dan keadaan dari pada otot-otot
4. Struktur dan tipe alat-alat genetika
5. Struktur dan keadaan radulas jika ada
6. Keadaan, bentuk serta struktur dari pada shellnya, termasuk didalamnya struktur dalam shell.
#Klas Amphireura
Dibagi dua ordo :
- Polyplacophora
- Aplacophora
1. Ordo Polyplacophora
Ordo ini mempunyai bentuk elips memanjang yang dibagian dorsal terlihat seperti ada perisai yang terdiri dari 8 segmen. Masing-masing valve mempunyai dua lapisan, lapisan atas yang disebut tegmentum dengan komposisi zat conchiolin yang bersifat agak porous, sedangkan lapisan bawahnya disebut artikula montum yang terdiri dari kalsit dan bersifat non porous.
2. Ordo Aplacopophora :
Mempunyai bentuk seperti cacing dimana tubuhnya dilapisi oleh semacam mantel. Kaki mengalami suatu kemunduran atau malahan berupa cilia pada bagian ventral yang berada dari mulut sampai anus. Disini tidak mempunyai shell, tetapi mantelnya terdapat spiculaw yang bersifat calcareous yang nantinya inilah yang akan menjadi fosil, maka tidak aneh apabila aplacophora jarang sekali dijumpai dan hidup pada laut dangkal tetapi beberapa jenis hidup dengan jalan membuat lubang, umumnya bersimbiosme dengan jenis koral dan golongan hybrida lainnya, pada daerah-daerah laut dalam.
Contoh spesies kelas Amphireura :
http://www.seaslugforum.net/images/087170.jpghttp://t2.gstatic.com/images?q=tbn:74lKKdCSycy9_M


#Klas Schapopoda
Kelas Schapopoda adalah merupakan Mollusca marina, dimana shell dan mentelnya akan membentuk bersama-sama sebuah tabung yang melengkung dan terbuka pada kedua ujungnya. Bagian dimana merupakan bentuk yang kecil (posterior), yang bersar anterior. Otot-otot daging terdapat didekat akhir posterior, melekat pada shell sedang pada anterior yang berbentuk conus akan keluar kaki, dan disinilah terdapat alat-alat lunak seperti : mulut, alat pencernaan makanan, dimana kadang-kadang kaki dan mulut itu dikelilingi oleh cilia. Chapopoda dapat hidup sampai kedalaman 4750 m, secara bentonik dengan melekatkan diri pada dasar yang lunak dengan bagian-bagian posterior dibawah. Komposisi shell : zat organic dan tumbuh dengan penambah kearah bagian yang besar. Pada permukaan luarnya kadang-kadang halus, tetapi tidak jarang pula mempunyai coaste yang halus yang berjalan searah dengan shellnya. Shell dari pada Schapopoda mudah dibedakan berdasarkan atas bentuknya dan tidak mempunyai kamar-kamar.
Contoh spesies dari klas Schaphopoda :
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:rFNP2LLDcygjYM

http://www.19thcenturyscience.org/HMSC/HMSC-INDEX/plates/1886-Watson10.jpg
#Klas Pelecyopoda
Pelecyopoda merupakan salah satu klas yang mempunyai penyebaran yang luas dan adaptasi yang sangat baik. Adanya system bilateral simetri dari tubuhnya baik bagian yang lunak maupun yang keras, mudah sekali dibedakan dengan klas yang lain. Karena klas ini bersifat Bivalve (mempunai 2 valve). Bila valvenya tertutup maka bagian-bagian yang lunak dapat masuk kedalam rongga antara valve. Pelechyopoda muncul pada kambrium, umumnya hidup bebas, bergerak menambat pada dasar tetapi kadang-kadang hidup terpendam dilumpur atau membuat lubang pada kayu, bahkan menambat didasar yang permanen. Klasifikasi Pelechyopoda biasanya didasarkan pada bagian tubuhnya tertentu yaitu :
1. Klasifikasi berdasarkan struktur insang biasanya dipakai oleh para ahli biologi, dan berguna dalam penyelidikan pelechyopoda
2. Klasifikasi berdasarkan susunan gigi pada garis engsel dianggap penting sekali bagi paleontology karena biasa diperiksa serta diamati pada fosil. Gigi pada Pelechyopoda terbagi atas 2 susunan yaitu taksodon, dimana gigi memusat mulai ari garis engsel ke tengah kelopak dan aktinodon dimana gigi memancar dari umbu bawah
3. Klasifikasi berdasarkan oto penutup secara ringkas adalah sebagai berikut : oto isomyaria dimana kedua ototnya sama besar dan anisomyria dimana kedua ototnya tidak sama besar atau hanya satu.
4. Klasifikasi berdasarkan evolusi, dibuat berdasarkan penyesuaian diri dari pelechyopoda terhadap lingkungannya yang mengakibatkan radiasi, hal ini menyebabkan timbul tiga cara hidupnya yaitu hidup bebas pada dasar laut, melekat pada dasar dan menggali lubang.
5. Klasifikasi berdasarka gabungan insang, susunan gigi, dan otot penutup kelopak. Berdasarkan klasifikasi ini dikenal tiga ordo yaitu :
· Ordo Taxodonta : gigi taxodonta, biasanya terdapat dua buah otot penutup yang sama besar, tanpa shipo
· Ordo Anisomyra : biasanya kelopaknya tidak sama besar, otot penutup anterior hampir atau sudah lenyap, otot posterior yang kuat sekali terdapat dekat titik tengah kelopak agak dibelakangnya, gigi disodon atau isodon atau tidak ada sama sekali, hidupnya melekat pada dasar laut dengan byssus atau secara langsung dengan semen, tidak mempunyai siphon
· Ordo Eulamellibranchia : ordo ini paling penting dan terdiri dari 26 super keluarga, mereka mempunyai dua buah otot penutup yang sama besar atau sama dan juga memiliki siphio, giginya skizodon, heterodon atau desmodon
Contoh spesies dari klas Pelechyopoda :
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:vFx0LThxanSbdM
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:oXYp5TuqgOUy3M







Klas Gastropoda
Gastropoda merupakan klas terbesar dalam phylum ini, yang termasuk dalam klas ini adalah hewan yang mempunyai cangkang terputar atau tidak dan terbuat dari zat kapuran. Semula mereka menghuni lautan tetapi dalan Kala Mesozoikum dan Kenozoikum banyak jenis yang dapat menyesuaikan diri hidup di air tawar atau payau dan beberapa beberapanya hidup didaratan. Ukuran cangkangnya berkisaran antara 0,5mm-50cm.
Gastropoda terdiri dari :
Kepala; Pada kebanyakan Gastropoda bagian anterior (muka) dari tubuhnya adalah kepalanya dan biasanya mempunyai berbagai macam alat penginra. Dibagian ventral kepala terdapat sebuah mulut, sepasang mata yang biasanya bergagang, dan sepasang atau dua pasang tentakel (alat peraba berbentuk antena) yang bekerja sebagai alat pengindra. Mulut mempunyai radula, yaitu suatu alat yang menyerupai lidah yang bergig-gigi serta parutyang gunanya untuk menangkap atau mengunyah atau memangsa mangsanya. Radula ini terbuat dari khitindan terdiri dari banya gigi yang jumlahnya berkisar 16-750000
1. Isi Perut; Terdiri atas saluran pencernaan (usus) yang terletak langsung dibelakang rongga mulut, sebuah hati yang cukup besar, ginjal, jantung, pembuluh darah alat perkembangbiakan, dan jaringan urat saraf. Isi perut terletak di bagian dorsal kaki dan mengisi ruang cangkang.
2. Kulit Mantel; Merupakan selaput kulit tipis yang menyelubungi badan Gastropoda dan juga sebagai pembuat cangkang.
3. Cangkang; Rangka luar disebut cangkang dan jumlahnya hanya satu, berbentuk macam-macam, kebanyakan seperti kerucut, atau tabung yang terbuka pada ujung satunya dan menjadi runcing pada ujung suatu sumbu, sehingga berupa spiral. Spiral ini dapat berputar dalam satu bidang (planispiral) dan 3 dimensi (trochoid spiral). Putaran itu menghubungkan satu sama lain dan tempat sambungnya merupakan suatu garis yang disebut sutura. Putaran yang terakhir biasanya lebih besar dari putaran yang lebih dahulu. Cangkang disebut tertutup, jika putaran yang akhir menutupi putaran yang lebih dulu. Dinding cangkang terdiri dari tiga lapisan yaitu dari luar kedala berturut-turut :
· Peritoisme tipis terbuat dari zat kitin
· Lapisan Prisma terbuat dari karbonat
· Lapisan muara yang terbuat dari karbonat
Contoh spesies dari klas Gastropoda :







#Klas Cephalopoda
Cephalopoda merupakan hewan inverterbrata yang paling progresif disbandingkan dengan golongan inverterbrata lainnya. Hewan ini dapat memiliki cangkang di luar atau didalam. Badan hewannya yang lunak memiliki sebuah kepala dengan sepasang mata besar dengan perkembangan yang baik seperti mata ikan, alat pendengaran dan mulut dengan rahangnya yang menyerupai paruh burung kakak tua dan dikelilingi oleh tangan-tangan yang berfungsi untuk meraba dan menangkap (tentakel).
Kelas Cephalopoda dapat dibagi menjadi 3 subklas yaitu :
1. Subklas Naulitoidea
Naulitoidea mempunyai cangkang luar dan terdiri dari sebuah tabung yang terbuka pada ujung yang satu dan menjadi rumit pada ujung lainnya. Tabung ini dapat berbentuk lurus, bengkok atau spiral. Dalam bentuk spiral putarannya (coil) dapat tertutup (involut) dan terbuka (evolut). Dinding cangkang dari bagian luar kedalam terdiri dari 4 lapisan, yaitu:
· Lapisan kitin
· Lapisan gampingan
· Lapisan porselin
· Lapisan mutiara
2. Subklas Ammonoidea
Pada kebanyakan Ammonoidea cangkangnya terputar pada satu bidang, tetapi beberapa cangkangnya dapat lurus misalnya pada Lobobacteries. Garis suture pada Ammonoidea sangat rumir, bentuk dari garis suture ini berlainan pada tiap Ammonoidea dan sangat penting bagi klasifikasi hewan ini. Garis gelombang pada Ammonoidea dapat dibagi dalam beberapa bagian yaitu sadle dan gelambir
3. Subklas Coleodea
Cangkang Coleodea lurus dengan dua buah insang. Tentakel berjumlah 8 atau 10 buah. Rangka berada didalam atau tidak mempunyai sama sekali. Yang termasuk subklas ini adalah spirula yang masih hidup sekarang. Dari subklas ini ada 4 ordo yaitu :
· Ordo Belemnoidea
· Ordo Sepoidea
· Ordo Tenthoidea
· Ordo Octhopoda
Dari keempat ordo ini, ordo Belemnoidea telah puna. Diantara Celenoidea yang terpenting untuk keperluan statigrafi adalah golongan Belemnoidea.
Contoh spesies dari klas Cephalopoda :
http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/resources/biodidac/ceph011b1.gif/medium.jpghttp://t0.gstatic.com/images?q=tbn:P4-wi3WAcDiLvMhttp://t0.gstatic.com/images?q=tbn:QsDAVAnpVLDezM

ACARA 1 Pengenalan Fosil






No. Urut                      : 5
No. Peraga                  : 1964
Family                         : Nummulitesidae
Genus                          : Nummulites
Spesies                        : Nummulites millecaput BOUBBE
Proses Pemfosilan       : Mineralisasi
Bentuk                                    : Plate
Komposisi Kimia        : Kalsium Karbonat (CaCO­3)
Umur                           : Eosen Tengah
L.P                              : Laut Dangkal
Keterangan                  : Fosil ini termasuk dalam family Nummulitesidae, genus Nummulites, dan spesies Nummulites millecaput BOUBBE. Adapun bagian-bagian tubuh yang masih bisa diamati dalam fosil ini berupa : Test (bagian Tubuh keseluruhan dari fosil), Endoderm (bagian dalam fosil) Eksoderm (bagian luar fosil).
Proses pemfosilannya dimulai ketika organisme ini mati, kemudian mengalami transportasi pada daerah cekungan sedimen oleh media geologi berupa air, es maupun angin. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Organisme ini lalu mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Karena material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Selama berada dalam lapisan sedimen bagian dari organisme yang tidak resisten terhadap pelapukan tergantikan oleh mineral-mineral atau  material-material sedimen yang lebih resisten. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang  telah mati sehingga menjadi keras/membatu dan menjadi fosil.
Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen  yang  bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat  melalui proses-proses  tektonik. Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai  fosil.      
            Bentuk tubuh dari fosil ini adalah plate yang merupakan bentuk fosil yang menyerupai piring. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCl, yang menandakan bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3). Dilihat dari komposisi kimianya fosil ini memiliki lingkungan  pengendapan  berada  pada daerah  laut dangkal. Berdasarkan Skala Waktu Geologi  fosil ini hidup pada zaman eosen tengah  (±55-50 juta tahun).
Adapun kegunaan dari fosil ini adalah sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan, menentukan lingkungan pengendapan, dan menentukan top dan bottom.
Referensi:
1.      Asisten; 2013. Buku Praktikum Paleontologi. Unhas: Makassar.
2.      Tabel Skala Waktu Geologi



















            ASISTEN                                                           PRAKTIKAN


  (  ASRI RAHMAN AGRI  )                                        (RICHY JOHANIS KANTU)








No. Urut                      : 6
No. Peraga                  : 157
Family                         : Porpitesidae
Genus                          : Porpites
Spesies                        : Porpites porpital
Proses Pemfosilan       : Mineralisasi
Bentuk                                    : Discoidal
Komposisi Kimia        : Kalsium Karbonat (CaCO3)
Umur                           : Silur Tengah
L.P                              : Laut Dangkal
Keterangan                  : Fosil ini termasuk dalam family Porpitesidae, genus Porpites, dan spesies Porpites porpital. Adapun bagian-bagian tubuh yang masih bisa diamati dalam fosil ini berupa : Test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil, tentakel adalah garis pembatas, Oral disk, Oral opening tempat masuknya air dan zat-zat makanan, Endoderm bagian dalam fosil dan Eksoderm bagian luar fosil.
Proses pemfosilannya dimulai ketika organisme ini mati, kemudian mengalami transportasi pada daerah cekungan sedimen oleh media geologi berupa air, es maupun angin. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material sedimen yang terakumulasi dalam cekungan sehingga organisme tersebut terhindar dari makhluk pemangsa. Organisme ini lalu mengalami proses petrifikasi, berupa proses mineralisasi, yaitu penggantian seluruh mineral penyusun tubuh organisme ini dengan mineral lain. Karena material-material sedimen semakin bertambah maka tekanan pada organisme yang tertimbun semakin besar sehingga terjadi proses kompaksi dan membentuk lapisan sedimen. Selama berada dalam lapisan sedimen bagian dari organisme yang tidak resisten terhadap pelapukan tergantikan oleh mineral-mineral atau  material-material sedimen yang lebih resisten. Organisme ini lalu mengalami proses litifikasi yang merupakan perubahan organisme menjadi batu oleh adanya bahan-bahan seperti silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang  telah mati sehingga menjadi keras/membatu dan menjadi fosil.
Proses pemunculan fosil ke permukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan mengalami pengangkatan. Gaya endogen  yang  bekerja membuat lapisan sedimen yang berada dibawah terangkat  melalui proses-proses  tektonik. Kemudian dibantu dengan adanya gaya eksogen berupa air hujan atau angin yang membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan dan dikenali sebagai  fosil.      
            Bentuk tubuh dari fosil ini adalah plate yang merupakan bentuk fosil yang menyerupai piring. Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan HCl, yang menandakan bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3). Dilihat dari komposisi kimianya fosil ini memiliki lingkungan  pengendapan  berada  pada daerah  laut dangkal. Berdasarkan Skala Waktu Geologi  fosil ini hidup pada zaman eosen tengah  (±55-50 juta tahun).
Adapun kegunaan dari fosil ini adalah sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan, menentukan lingkungan pengendapan, dan menentukan top dan bottom.
Referensi:
1.      Asisten; 2013. Buku Praktikum Paleontologi. Unhas: Makassar.
2.      Anonim,  http://en.wikipedia.org/wiki/porpitesporpital, diakses pada tanggal 13 Maret 2013, pukul 19.45 wita.
3.      Tabel Skala Waktu Geologi














            ASISTEN                                                           PRAKTIKAN


  (  ASRI RAHMAN AGRI  )                                        (RICHY JOHANIS KANTU)




No. Urut                      : 7
No. Peraga                  : 1977
Family                         : Conusidae
Genus                          : Conus
Spesies                        : Conus brocchi BRONN
Proses Pemfosilan       : Permineralisasi
Bentuk                                    : Conical
Komposisi Kimia        : CaCO3 (Karbonat)
Umur                           : Pliosen Atas
L.P                              : Laut Dangkal
Keterangan                  : Fosil dengan nomor sampel 1553 ini merupakan  family Conusidae, genus Conus dan merupakan spesies Conus brochi BRONN.
Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme yang mati, kemudian tertransportasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, dan lain-lain yang dapat mengubah bentuk dan kedudukannya. Selama tertransportasi material yang lebih resisten terhadap pelapukan akan tergantikan dengan material yang lebih resisten.   Kemudian fosil ini akan terendapkan pada daerah yang lebih rendah yang relatif kedudukannya berupa cekungan. Setelah itu akan terakumulasikan yaitu tertutupi oleh lapisan-lapisan batuan sedimen pada tempat asalnya yakni berupa cekungan, Lapisan tersebut lama kelamaan akan bertambah tebal yang mengakibatkan faktor luar berupa sinar matahari tidak dapat menembus lapisan tersebut dan faktor dalam berupa bakteri pembusuk tidak dapat bekerja, sehingga mempermudah proses pemfosilan yang sebelumnya mengalami leaching yakni proses pencucian fosil dan terjadi pergantian secara keseluruhan oleh mineral yang lebih resisten berupa mineral karbonat (CaCO3). Pada saat yang bersamaan terjadi sisa tubuh organisme yang terperangkap pada material sedimen telah berubah menjadi fosil melalui Proses pemfosilan yaitu Permineralisasi, Permineralisasi adalah penggantian sebagian mineral pada tubuh fosil. Selanjutnya terjadi proses kompaksi yang kemudian mengalami pemadatan yang mengakibatkan pori-pori pada fosil mengecil.  Kemudian Setelah kompaksi terjadi proses sementasi, Sementasi adalah proses melengketnya material-material sedimen dalam waktu yang lama fosil yang telah mengalami sementasi lama kelamaan mengalami proses litifikasi, Proses litifikasi adalah  proses pembatuan material sedimen, yang pada akihirnya telah menjadi fosil. Namun karena mengalami penimbunan  maka fosil tersebut tidak dapat langsung dilihat.   Kemudian terjadi gaya endogen dan eksogen, gaya endogen yang terkait didalam proses ini ialah proses tektonik.  Proses tektonik menyebabkan batuan sedimen tadi terangkat ke atas permukaan laut, Melalui proses up lift/pengangkatan atau perubahan permukaan  air laut/sea level change, meskipun telah  terangkat namun  fosil yang ada di dalamnya  belum tersingkap. Proses eksogen seperti pelapukan dan erosi menyebabkan batuan yang menutupi fosil terlapukan dan tererosi, Sehingga fosil tersingkapkan kepermukaan.
Fosil ini memilki bentuk Konikal, dimana bentuknya Konical merupakan bentuk fosil yang menyerupai kerucut yang diameternya dari bawah ke atas semakin.   Adapun bagian–bagian fosil yang masih dapat diamati antara lain : test (bagian keseluruhan dari tubuh fosil),  Aperture (mulut bagian atas pada tubuh fosil), Umbo (tempat keluarnya kotoran), Umbilicous (kamar pertama dari fosil tersebut), Grotline (berupa garis hitam yang terdapat pada badan fosil dengan kenampakan yang tidak terlalu jelas), Beak (ujung dari tempat keluarnya kotoran).
Fosil ini bereaksi ketika ditetesi larutan  HCL 0,1 M, sehingga dapat diketahui bahwa komposisi kimianya berupa kalsium karbonat (CaCO3), dan berdasarkan komposisi kimianya fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya  berada pada laut dangkal.
Berdasarkan SWG (Skala Waktu Geologi) atau penarikan umur secara relatif , fosil ini tergolong dalam zaman Pliosen Atas atau sekitar 3,2-1,5 juta tahun yang lalu.
Adapun fungsi dari fosil ini adalah sebagai berikut: sebagai bukti adanya kehidupan pada masa lampau, untuk menentukan umur relatif suatu batuan,menentukan lingkungan pengendapan, menentukan top dan bottom, dan menentukan geomorfologi suatu daerah. Dengan fosil tersebut kita dapat mengetahui keadaan iklim yang berlangsung pada masa lampau.

REFERENSI:
1.      Asisten Paleontologi 2011/2012. 2012. Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012. Makassar: Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
3.      www.wikipedia.com/ Conus